Dia adalah Richa Nuzul Haida. Teman sekelas, teman sebangku, dan teman yang sangat dekat denganku. Orang menyebutnya “sahabat”. Sahabat dalam arti yang sesungguhnya. Seseorang yang sering menghiburmu saat sedih, yang membantumu disaat kamu punya masalah, yang membuatmu bersemangat lagi disaat kamu putus asa.
Hari ini di jam pelajaran ke tiga adalah pelajaran Fisika. Pelajaran yang saat tak kusuka. Guru yang mengajar aneh. Tak ada Ulangan Harian, tetapi setiap akan menghadapi Ulangan Tengah Semester ataupun Ulangan Kenaikan Kelas, akan ada Ulangan khusus Fisika yang materinya langsung seambrek mulai materi awal semester.
“Tanggal 10 Juni nanti kalian akan menghadapi Ulangan Kenaikan Kelas. Maka pertemuan yang akan datang kalian harus siap mengikuti Ulangan dari saya sendiri mulai materi awal semester dua. Jadi jika ada soal yang kalian belum mengerti silahkan tanyakan sekarang,” pernyataan guruku itu sontak membuat semua teman-temanku keluar dari dunia mimpi dan memasang mata melotot mengerikan memandang buku paket Fisika yang tebalnya melebihi kamus Bahasa Inggris. Walaupun hampir semua warga satu kelas ini tak mengerti Fisika, tetapi tak ada yang berani bertanya. Semua diam seratus bahasa. Saat guru Fisika itu mulai keluar kelas, teman-temanku langsung stress mendadak. Ada yang berteriak sendiri karena tak mengerti satu rumus pun, ada yang gelagapan meminjam buku bertumpuk di perpustakaan, dan ada yang pasrah akan hasil Ulangan nanti. Tapi aku dan Haida tidak termasuk dalam kategori manapun, walaupun aku juga tak mengerti pelajaran Fisika.
“Haida, gimana nih. Aku juga nggak bisa Fisika.”
“Tenang saja, aku bisa separuh, kok. Nanti aku minta buat diajarin sama guru lesku.”
Tidak di rumah, tidak di sekolah. Setiap hari aku belajar Fisika. Terkadang aku juga belajar bersama Haida.
Esok harinya, Haida berlari menghampiriku sambil berteriak gembira.
“Intaann, aku punya rumus praktis buat materi cemin dan lensa nih, hanya memakai satu rumus, lho! Nanti kita belajar bareng, ya.”
“Benarkah? Oke oke.”
Seperti biasa, saat istirahat dan jam pelajaran kosong kami belajar Fisika. Kami mulai mengerti satu persatu bab yang akan diujikan nanti. Jika kami berdua sama-sama tak mengerti, kami bertanya pada temanku yang ranking satu. Kami juga tambah bersemangat lagi saat pelajaran Matematika, karena pelajarannya berkaitan denga Fisika. Disaat pelajaran Matematika, kami selalu menjadi pusat perhatian teman-teman dan guruku, karena disamping suara Haida yang kenceng banget, dia sangat jago menghafal rumus dan aku yang menghitung angka-angka rumit itu dengan sangat cepat. Bangku kami juga paling depan. Kami selalu paling duluan selesai mengerjakan soal-soal latihan. Guruku juga sering meminjam buku catatan kami.
Itulah cerita kekompakan kami. Oh ya, kami juga mempunyai banyak barang seperti gelang, tas, pin yang kam beli bersama-sama. Motivasi kami, jadilah generai penerus bangsa yang berguna. Impian kami, sama-sama masuk ke SMA favorit dan menjadi juara Olimpiade Matematika sampai tingkat internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar